Melihat Gerhana Bulan Dengan Mata Telanjang, Apakah Berbahaya?

Melihat Gerhana Bulan Dengan Mata Telanjang, Apakah Berbahaya?

Fenomena penampakan gerhana bulan Supermoon terjadi pada 31 Januari 2018. Fenomena sangat langka ini hampir dapat disaksikan diseluruh penjuru wilayah Indonesia ataupun negara lain. Gerhana bulan kali ini dikatakan langka dikarenakan bertepatan saat bulan berada dalam konfigurasi supermoon dan blue moon. Maka dari itu fenomena ini biasa disebut dengan Gerhana Bulan Super Blue Blood Moon. 

Supermoon kali ini merupakan bulan purnama besar kedua dalam satu bulan. Peristiwa ini menjadi istimewa karena diikuti dengan gerhana bulan. Alhasil, bulan tampak lebih besar dan berwarna biru kemerahan. Fase gerhana bulan langka yang dapat terulang 150an tahun lagi kali ini berlangsung pada awal gerhana parsial pukul 18:48, diikuti pucaknya pada pukul 20:30, dan diakhiri gerhana parsial pada pukul 22:11. 

Antusias besar untuk menikmati gerhana bulan kali ini, ditunjukan oleh masyarakat dengan berbondong-bondong menyaksikan fenomena tersebut. Ada yang berkunjung ke planetarium, mengabadikan foto dengan lensa kamera, atau sekedar menyaksikan dengan mata telanjang di tempat tertentu.  Lalu apakah berbahaya menyaksikan gerhana bulan dengan mata telanjang? 

BMKG menjelaskan bahwa seluruh Indonesia bisa melihat rangkaian keseluruhan gerhana tersebut. Lembaga pemantau iklim dan fenomena alam itu juga menegaskan bahwa gerhana bulan tidak berbahaya dan bisa disaksikan dengan mata telanjang maupun menggunakan teleskop atau binokuler. Ternyata mengamati proses terjadinya fenomena gerhana bulan tidak berbahaya bagi kesehatan mata.

Dampaknya berbeda dengan gerhana matahari jika dilihat dengan mata telanjang. Menyaksikan gerhana matahari sama dengan menyaksikan sinar matahari dalam kurun waktu yang lama dan sama seperti saat kita berada dalam kegelapan. Pupil mata akan melebar untuk menangkap cahaya sebanyak mungkin. Retina mata Anda bisa rusak ketika paparan sinar matahari langsung masuk ke area mata, istilah tersebut dinamakan solar retinopathy. 

Pada kondisi gejala retinopathy akan muncul titik hitam yang akan selalu terlihat pada pandangan mata, bahayanya penyakit ini akan sulit disembuhkan. Jika Anda menyaksikan ketika fase totalitas gerhana matahari, ketika itu piringan sudah bergeser melewati fase totalitas, disitulah kondisi yang paling membahayakan mata. Paparan cahaya akan terus menambah intensitasnya, sinar ultraviolet akan merusak mata Anda ketika melihatnya dengan mata telanjang. 

Solusinya, ketika Anda menyaksikan fenomena gerhana matahari gunakanlah kacamata dengan filter Natural Density 5. Pemakaian kacamata khusus ini sangat disarankan, terlebih ketika ingin menyaksikan gerhana matahari pada fase sebelum menuju fase total karena intensitas pancaran yang tinggi. Akan tetapi, ketika berlangsung fase totalitas kacamata dapat kembali dilepas, fungsinya untuk melihat korona gerhana matahari secara sempurna. (Jody/Inggrid)